Showing posts with label TAO OF SHRED. Show all posts
Showing posts with label TAO OF SHRED. Show all posts

Tuesday, September 6, 2011

TAO OF SHRED: Q&A 2


Q: Lagu C4 mana aja yang jadi favorit sampeyan?
A: Lagu yang aku suka malah 2 lagu yang gak pernah dimainin live, “Finale” ama “Air Mata”. Aku suka Finale karena sejak dulu aku pengen bikin lagu kayak Bohemian Rhapsody-nya Queen. And I think I have succeed with Finale. Walaupun banyak kekurangan, karena C4 bukan Queen, tapi aku lumayan puas.  Kalo lagu Airmata aku suka solo gitarnya, sampai sekarang aku gak bisa dapetin sound kayak gitu lagi, karena settingannya kehapus secara gak sengaja dari Zoom GFX 707ku. Kedua lagu ini juga direkam tanpa latihan sebelumnya. Aku bikin lagu itu langsung di studio. Jadi personil C4 yang lain gak tau lagu itu bakalan kayak apa. They just came in and did what I told them to do.

Q: Mau gak mau, mas Norman bisa dibilang mng-influence banyak orang karena berani bermain beda, terutama permainan killswitch. Sekarang banyak gitaris yang pasang killswitch di gitarnya. Banyak juga gitaris yang mainin teknik-teknik sound anehnya sampeyan. Itu inspirasi dari mana? Dan apa pendapat mas Norman saat liat ada orang yang 'niru' sampeyan?
A: Jujur aja jelas dari Tom Morello. Tapi sebenarnya Tom Morello bukan orang pertama yang main killswitch. Eddie Van Halen udah main itu di album pertamanya tahun 1978. Stevie Ray Vaughan juga sering mainin switch gitu, walaupun bukan killswitch tapi hasilnya hampir mirip kok.
Perkara tiru meniru itu udah biasa kok. Meniru itu adalah bentuk pujian tertinggi. Jadi aku gak pernah sumpek liat orang lain main kayak aku. Karena seberapa kerasnya mereka mencoba, mereka gak bisa kayak aku. Dan begitu pula sebaliknya, aku pun gak bisa kayak mereka. So I just do what I do. Kalo ada yang suka ya asik aja. Kalo banyak yang gak suka, ya I don't give a fuck.

Q: Saya udah dengerin beberapa lagu C4 yang baru, kok beda ama album C4 yang lama ya mas?
A: Ya harus beda, kalo gak beda, what's the point of making a new album? Hehe. Tapi tetep ada benang merahnya kok. Masih tetap nge-rap. Masih tetep nge-rock. Liriknya masih tetep kritis, walaupun udah gak begitu politis lagi. Yang kamu denger itu adalah hasil pre-produksi. Jadi masih dalam bentuk demo. Dan bukan hasil akhir. Hanya memberi gambaran tentang album kita berikutnya,dan juga untuk penjajakan pendapat aja. Tapi aku justru senang ada komentar kayak gini. Itu terbukti kalo C4 bisa bikin musik yang beda, dan gak cuma stagnan dalam segi musikalitas. Aku tuh pengen kita kayak Queen. Mereka bisa bikin musik yang beda-beda tapi tetep kedengaran kayak Queen. But don't get me wrong, aku bukan pengen C4 musiknya kayak Queen. Cuma inspirasi aja. Aku pengen musikalitasnya aja yang kayak gitu, bukan musiknya. Ngerti kan maksudnya? Hehe

Q: Gimana caranya dapetin inspirasi, karena aku sering kerasa stagnan?
A: Dengerin musik-musik yang biasanya jarang kamu dengerin, atau sekalian musik-musik yang kamu gak suka. Aku dengerin musik apa aja, bahkan musik yang gak ada hubungannya dengan gitar atau dengan musikku. Karena selalu ada hal yang baru. Aku dengerin Prodigy atau The Chemical Brothers buat dapetin beat-beat yang asik dan sound yang lucu-lucu. Untuk kord-kord aku dengerin musik-musik pop dan Jazz, karena banyak kord-kord asik di situ. Untuk permainan gitar, aku malah jarang dengerin gitaris, aku malah suka dengerin vokalis, drummer, atau saxophone. Beneran loh. Dari vokalis kayak Whitney Houston aku belajar gimana main lead yang baik. Kalo kamu dengerin cara dia bernyanyi, cara dia phrasing, cara penjiwaannya, cara dia vibrato, cara dia menjangkau nada-nada tinggi, semua itu bisa diterapin di gitar. Aku sering banget “ngejam” dengan lagu-lagunya Whitney Houston. Ngikutin nyanyinya pake gitar. Ngikutin semua vibratonya, nada-nada tingginya, dan lain-lain. Kamu akan kaget betapa banyak yang bisa kamu dapetin dari cara-cara “gak gitar banget” kayak gini. Coba aja.

Q: Bro, ceritain dong tentang lagu “Lelaki Sejati”. Kisah di baliknya, inspirasinya, aransemennya, dan lain-lain.
A: Awalnya aku pengen bikin lagu yang liriknya bisa nyambung ke berbagai hal. Lagu itu bisa tentang patah hati, bisa tentang kehidupan, bisa tentang macem-macem. Kalo kamu dengerin liriknya, rasanya semua hal bisa nyambung ke lagu itu. As long as you are male, off course, hehe. Kalo gak salah aku bikin lagu itu di dalam bis.
Lagu ini sempat digarap Arema Voice juga. Cuma aransemennya yang bikin Bayu PG, bukan aku. Nice arrangement. I would never be able to arrange music like that. Tapi saat itu aransemennya emang beda ama visi ku tentang lagu itu.
Untuk aransemen buat C4 sendiri, aku pengen bikin lagu pop yang gak kacangan. Yang kordnya banyak, dan musiknya megah. Sebenarnya ada rencana untuk nambah paduan suara biar lagu itu tambah megah. Kita lihat aja mudah-mudahan ada jalan.
Di bagian interlude ada progresi kord yang aku suka banget. Aku iseng aja bikin kayak gitu, semakin banyak kord semakin bagus. Hehe. Jujur aja itu nyolong dari lagunya Tomika Van yang judulnya “Holy Planet”.

Q: Gimana rasanya jadi anggota “Arema Voice”
A: That's a tough question. But I'd say: proud and embarrassed at the same time. Haha. I'm not kidding. Adalah sebuah kebanggaan untuk bisa main dengan musisi-musisi hebat kayak Bayu, Unyep, mas Denny, dan Nico. Tapi terlalu banyak blunder di band ini. So I just left. It's better to channel my energy on something else. Tapi aku bangga dengan beberapa karyaku di Arema Voice seperti Singo Edan, Api Jiwaku, Indonesiaku dan Malaikat Kecil. I wrote every single thing on those songs from guitar riff, to vocal lines, to drum beat.

Q: Band favoritmu yang “gak” banget?
A: Aku suka D'Bagindas. I think they are genius. D'Massiv juga. Wah aku hampir tiap hari dengerin D'Massiv hehe. Kalo band aneh-aneh aku suka adalah YMCK. Musik mereka kayak musiknya video game. Cute music. Kalo dengerin musik mereka rasanya kayak kembali jaman aku kecil pas lagi musim main Nintendo. Ada yang tau New Kids on The Block? They probably my biggest idol. Haha

Q: Mas Norman pernah jadi anggota Flanella ya? Kenapa keluar?
A: Aku gitaris pertamanya, tapi aku gak tau apa itu udah resmi jadi anggota atau belum. Penampilan pertama Flanella itu di Kartika Graha, saat itu kita bawain beberapa lagu orang dan juga lagu sendiri. Seingatku judulnya “Satu Yang Kuinginkan”. Aku gak keluar dan juga gak dikeluarin. Abis manggung pertama kali itu, aku gak pernah denger kabar lagi dari mereka. Saat mereka gabung lagi, udah pake gitaris baru. So I guess that's a new way of firing people, right? Haha. Just kidding. We're still good friends. Sharing jokes and laughs together. Aku suka anget ama suaranya Kidnep. I think we should make an album together. Hahahah.

Q: Pernah gak kehilangan semangat main gitar?
A: Aku gak pernah kehilangan kecintaan pada gitar. Kalo lagi males, ya males aja. Tapi aku gak pernah bosen. Every time my fingers touch the fretboard, I am in a new world. That's just the way I escape my problems and worries. Kadang-kadang aku suka becanda bilang bosen gitaran, kenyataannya aku tambah suka tuh main gitar.
Kalo kebosanan datang, ya lakukan hal lain. Baca buku kek, ke gunung kek, ke pantai kek. Kalo udah refreshing, pasti jadi seger lagi. Main gitar tuh kayak pacaran. Ada saat kamu bilang kamu bosen, tapi begitu jauhan ada rasa kangen yang gak terkatakan. Gitu kali ye?

Q: Apa kamu tetep semangat bermusik kalau seumpama band kamu banyak masalah, stagnan, dan gak sukses?
A: Masa depan itu gaib. Siapa yang tahu takdir kita? Memang takdir udah digariskan, tapi kita gak akan pernah tau kita bakalan jadi apa sebelum kita berusaha menjemput takdir itu kan? Jadi aku tetep berusaha terus, sampai pada akhirnya aku tahu aku sukses atau gagal. Toh bayanganku tentang sukses dan gagal bisa aja beda ama kamu.
Mengenai band yang banyak masalah, semua band dan semua hubungan orang-per-orang pasti ada masalah. Karena gak ada satu pun orang yang cocok dengan orang lain. Yang kita bisa adalah saling menyesuaikan. Aku pikir dimana-mana sama aja. Ngeband itu sama kayak pacaran, sama kayak nikah. Kamu harus mau menerima kekurangan orang, kalo gak kamu bakalan kecewa terus, dan pencarianmu gak akan pernah usai. Bagaimana mungkin kita bisa nemu orang yang cocok dan klop sedangkan ujung jari kita aja gak ada yang sama? Apalagi isi kepala? 

Q: Ceritain proses waktu C4 bikin album dong?
A: Biasanya lagu itu udah utuh jadi di kepalaku. Jadi saat di studio latihan, aku udah punya gambaran musiknya akan kayak gimana. Personil yang lain tinggal ikut aja. Tapi mereka kadang main beda, dan malah lebih asik dari ide awalku. Jadi aku gak begitu otoriter dalam hal aransemen. Pokoknya, apapun yang cocok, itu yang dipakai. Dan personil lain udah punya bayangan apa yg cocok dan apa yang gak. Visi bermusik kita udah sama. Tapi mereka mempercayakan hasil akhirnya ke aku. Karena aku yang paling paham tentang hal ini, jadi keputusan akhir ada di tanganku. Tapi itu gak berarti aku yang berkuasa penuh di C4. Bisa dibilang aku sebagai pemimpin, tapi keputusan tetap berada di tangan rakyat. Untungnya rakyat mempercayakan segala keputusan kepada pemimpinnya. Begitulah analogi di C4.
Nah setelah aransemen udah jadi, kita lalu rekaman. Biasanya langsung ke studio. Gak pake buat demo di rumah dulu. Karena menurutku buang-buang tenaga. Nah pas rekaman di studio itu, kita rekaman 'mentahan' dulu alias guide. Dari situ aku bisa tau soundnya mau digimanain, bagian mana yang harus dirubah, dan lain-lain. Biasanya di tahap ini baru aku nulis liriknya yang fix.
Setelah lirik jadi, aku rekam suaraku sebagai guide buat vokalisnya. Setelah guide vokal selesai, kita baru ngisi seluruh instrumen secara 'beneran'. Nyari sound yang cocok, dan lain-lain. Biasanya proses rekaman gak butuh waktu panjang, karena sebelumnya kita udah latihan dulu.
Tapi ada beberapa lagu yang sebelumnya gak pernah dilatih dulu sebelumnya, kayak “Finale”, “Air Mata”, dan “Lelaki Sejati”. Lagu-lagu itu prosesnya langsung aku lakukan di studio. Gak ada alasan kenapa begitu, mungkin karena kita gak sempat latihan aja.
Saat rekaman aku juga selalu ada saat personil yang lain take bagiannya. Biasanya aku ngasih saran tentang sound, dan lain-lain. Karena rekaman itu beda banget saat latihan. Saat latihan ada beberapa lagu yang kedengaran asik, tapi begitu direkam kok jadi gak enak.
Begitu proses rekaman selesai dan masuk proses mixing, biasanya aku menyerahkan proses mixing ke studio engineernya. Setelah selesai, baru aku dengerin lagi Kalo ada yang gak cocok atau ada kekurangan baru aku minta dirubah. Biasanya aku bawa hasil mixing untuk didengerin di berbagai tempat. Di komputer, di CD player, dan lain-lain. Saat dengerin itu biasanya aku bikin catatan-catatan kecil. Kayak “cymbal kurang kedengaran di menit ke sekian”, “vokal bagian ini harus lebih pelan” dan lain-lain. Setelah itu kita mixing ulang lagi berdasarkan hasil catatan itu. Begitu terus berulang kali sampai kita semua puas ama hasilnya.
Setelah mixing baru di mastering. Biasanya proses masteringnya aku ikut juga.

Sunday, August 28, 2011

TAO OF SHRED: Q & A

Saya banyak sekali dapat pertanyaan macam-macam. Kayak artis aja. Haha. Tapi saya pikir bagus juga kalo di share di sini. Sekedar tambahan wawasan. Jika teman-teman ada pertanyaan, silahkan lewat comment atau lewat FB ya,,,,





Q: Mas, gimana cara bisa sukses dalam dunia musik?

A: I don't know brother. Kalo aku tau jawabannya, aku udah sukses dari dulu-dulu. Hehe. Tapi kalo kamu tanya aku tentang kesuksesan, kita harus tanya dulu pada diri sendiri, “Sukses macam apa?”. Apakah menjadi terkenal? Jadi kaya raya? Orang memuja-muja namamu sebagai 'dewa' gitar? Atau apa?. Karena bagiku, sukses bukan itu semua. Bagiku sukses adalah ketika kamu mampu melakukan apa yang kamu suka, dan merdeka saat melakukannya. To me, playing a guitar is a success in itself. It's the greatest achievement. Saat aku mampu membuat lagu yang bikin aku menangis, atau tertawa, atau marah, maka bagiku itu adalah kesuksesan. Itu kebahagiaan tertinggi. Karena itu adalah something which gives me the greatest joy. Jadi aku gak perduli apa-apa. Saat aku main musik, saat aku menjadi satu dengan nada-nadanya, saat I become the song....itu adalah kesuksesan bagiku.

Q: Aku bingung dalam menentukan jalan hidup mas. Apa ngikuti kemauan jadi musisi, atau harus kerja kantoran. Karena jadi musisi itu gak ada jaminan hidup mapan. Kalau kamu gimana menentukannya mas?

A: Kalo kamu punya pilihan lain selain menjadi musisi, maka jangan jadi musisi. Karena menjadi musisi itu bukan pilihan hidup, melainkan jalan hidup. Aku sendiri gak pernah bingung memilih, karena sejak aku suka main musik, sejak itulah aku memutuskan musik adalah jalan hidup. Aku memang gak kaya, atau kemudian jadi mapan. Tapi setidaknya aku masih mampu memenuhi kebutuhan hidup, dan membeli barang yang pengen kubeli. Aku memang gak punya rumah atau mobil, tapi apa orang yang kerja kantoran juga langsung punya rumah atau mobil? Hidup adalah misteri, gak seorang pun yang tahu akan masa depan. Jadi daripada, aku melakukan hal yang tidak kusukai, hanya untuk merasa 'aman' secara finansial, lebih baik aku melakukan apa yang aku suka. Toh sampai sekarang aku masih hidup. Masih bisa makan. Masih bisa bayar tagihan-tagihan. Karena rejeki di tangan Alloh. Bukan di tangan pekerjaan, di tangan bos kantor, atau di tangan siapapun juga. Aku gak bilang hidupku nyaman dan enak, karena seumur hidupku aku terus berjuang menjadi “seseorang”. Seseorang yang dihargai bukan karena seberapa banyak uang yang mampu aku hasilkan setiap bulan. Melainkan seseorang yang dihargai karena mampu memberi sesuatu kepada dunia. Kalau ada satu orang saja yang 'tercerahkan' karena musik ku, atau ada orang yang memutuskan untuk tidak jadi bunuh diri karena dengerin lirik-lirikku, aku pikir itulah saat dimana aku benar-benar menjadi manusia.
Aku diberi bakat dan kemampuan oleh Tuhan, bukan untuk mencari uang, karena sungguh rejeki itu udah disediakan Tuhan jauh sebelum kita lahir. Kita diberi bakat dan kemampuan oleh Tuhan, adalah untuk menjadi manusia seutuhnya. Yang merdeka. Yang punya harga diri. Yang bisa bilang “iya” saat pengen bilang “Iya”, dan bisa bilang “tidak” saat pengen bilang “tidak”. Dan dengan pilihan hidupku yang sekarang. Dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dengan segala kesedihan dan kebahagiaannya, dengan segala tangisan dan gelak tawanya, aku bahagia sepenuhnya. Karena seseorang tidak serta merta menjadi bahagia saat dia menjadi mapan. Tangis dan kesedihan juga tidak serta merta hilang saat seseorang mapan. Karena hidup terus berputar. Tangis dan tawa selalu bergantian. Sering banget aku denger temenku yang berkeluh karena ruwetnya pekerjaan kantor, beban hidup yang mereka tanggung sehari-hari, padahal pekerjaan mereka termasuk sangat baik, dan dikategorikan mapan. Aku bukan anti kemapanan atau apa. Aku hanya merasa bersyukur atas apa yang aku punya, dan yang tidak aku punya. Everything happens for a reason.
Maka, aku memilih jalan hidup ini, karena aku merasa itulah takdirku.

Q: Saya dengar mas norman belajar gitar secara otodidak. Gimana caranya bisa punya ilmu banyak tanpa harus ngeluarin biaya banyak untuk sekolah musik?

A: Aku belajar dari siapa aja bro. Dari teman. Dari orang yang lebih jago, dan dari orang yang tidak lebih jago dari saya. Karena seluruh semesta ini ilmu. Dari memperhatikan dan mempelajari, maka kita akan dapat ilmu. Dan segala ilmu itu nyambung. Aku bisa melihat benang merah antara rumus fisika dengan musik. Atau antara struktur bangunan dengan seni tari. Semua itu nyambung. Nyambung kepada Yang membuat hidup. Jadi, selama kamu mau membuka diri terhadap apapun juga yang ada di dalam hidupmu, termasuk masalah dan problem hidup, maka ilmu semakin bertambah. Oh iya satu lagi, pelajarilah banyak bahasa. Karena dari bahasa, pengetahuan diajarkan.

Q: Gimana biar bisa bermain gitar secara cepat? Ada cara untuk meningkatkan speed jari-jari kita?
A: Saya memulainya dengan sangat lambat.....

Q: Halo brother, aku udah kenal kamu sejak SMP, dan sampai sekarang kamu gak berubah. Kamu datang dan pergi tanpa beban. Menebar canda, bikin keramaian, ngarang cerita-cerita lucu, tapi kadang juga bisa filosofis dan penuh makna. Aku cuma pengen tahu, apa sih rahasia biar easy going kayak kamu? Because nothing has ever wipe the big warm smile from your face....
A: Hahaha. Thanks sista. You just don't know what I do behind locked door. Haha. Tapi aku paham maksudmu. Aku juga gak tau rahasianya apa. Mungkin karena aku pikir, dengan semua masalah yang ada, itu semua gak akan selesai saat kita menangis. Hehe. Masalah akan selesai, saat ditakdirkan untuk selesai. Jadi aku gak pernah mau mikir macam-macam. Kasih saja jari tengah pada semua itu. Beres Hahahahahaha......

Q: Berapa jam mas Norman latihan tiap hari?
A: wah aku gak pernah latihan bro. Aku cuma main dan main. Kadang aku main gitar sambil nonton TV atau Film. Itu aja. Dan gak pernah lebih dari dua jam. Karena rata-rata film itu dua jam. Hehe. Tapi ini bukan contoh yang patut ditiru.Bagiku manusia itu punya limit juga, percuma latihan 8 jam sehari, tapi kemudian gak ada hasilnya. Mending 15 menit tapi punya hasil yang bagus. Jadi rahasianya adalah di efektifitas latihan. Bukan di lamanya latihan. Tapi inti sebenarnya adalah kamu senang main gitar. Kadang pas kalo lagi senang main gitar, aku bisa makan sambil gitaran, atau baca buku sambil gitaran. Ini lagi coba-coba mandi sambil gitaran. Tapi masih belum bisa. Hehe.

Q: Kenapa kamu suka Che Guevara?
A: Aku tahu Che saat kuliah dulu. Dan sejak itu suka banget. Alasannya karena Che adalah tipe orang yang mengorbankan hidupnya demi kebahagiaan orang lain. Aku suka konsep itu. Ketika kamu menjadi bahagia saat melihat orang lain bahagia. That's what LOVE is, right?. Che sendiri bilang bahwa revolusi hanya terjadi atas dasar CINTA. Dan aku sepakat banget. Che adalah tokoh revolusioner yang romantis, avontourir, pemberani dan tulus. Aku mungkin gak punya semua kapasitas itu, tapi aku pengen banget bisa kayak dia. Itulah sebabnya saat kuliah dulu, aku aktif di pergerakkan. Bikin demo, kritis, dan lain-lain. Sekarang aku 'agak' berhenti, karena aku gak melihat lagi ketulusan dalam pergerakan para aktivis sekarang. Tapi suatu saat, ketika revolusi terjadi, aku yakin aku pasti akan berada di barisan paling depan. Insya Alloh.

Q: Saat kamu nyiptain lagu, dan lagu itu diklaim sebagai ciptain orang lain, apa yang kamu lakukan?
A: Aku sangat suka proses nyiptain lagu, dan merekamnya. Tapi aku gak suka saat manggung dan membawakannya. Gak tau ya kenapa. Karena mungkin aku merasa, saat terjujur dalam berkarya adalah saat mencipta dan merekam. Saat di panggung dan membawakannya, itu adalah 'akting' aja. Tapi, menjawab pertanyaanmu, aku akan bilang bahwa aku gak perduli. Aku bisa saja ngasih seluruh lagu ciptaanku ke orang lain tanpa minta uang sepeser pun. Karena kebahagiaanku bukan pada pengakuan, tapi pada penciptaan.
Cuma, yang bikin aku berontak adalah ketika seseorang tidak menepati janjinya. Itu aja. Dan aku sudah terlalu sering berurusan dengan mulut-mulut palsu dan hati culas. Sampai-sampai aku tahu kalo mereka itu berbohong, hanya dengan membaca tulisan dari SMS mereka. Aku berani bertarung untuk hak-hak ku. Tapi jika aku dengan ikhlas memberikan laguku untuk diklaim sebagai ciptaan orang lain, aku sih gak masalah. Asal aku sendiri sebelumnya ikhlas.

Q: Aku pernah lihat mas Norman sekali pegang gitar aja bisa langsung nyiptain lagu banyak banget. Langsung di tempat. Dengan musik yang berbeda-beda, dan lirik langsung dinyanyikan saat itu juga tanpa dicatat lebih dulu. Gimana caranya?

A: Aku juga gak bisa jawab. Tapi satu yang aku tau, lagu mencari tuannya sendiri. Karya akan mencari  penciptanya sendiri. It's all open in the sky, all you have to do is reach for it. Tapi kalo bisa ngasih tips, coba aja ngarang-ngarang lagu sederhana dulu. Dengan lirik terserah kamu. Mau yang lucu atau sedih-sedih. Dengan kord yang sederhana. Semakin sering kamu 'ngawur-ngawur', lama-lama pasti tambah mahir. Dulu aku sering duduk dengan teman-teman, lalu ngarang-ngarang cerita. Saat ngarang cerita, aku main gitar juga bikin soundtracknya. Cuma buat lucu-lucuan. Tapi itu melatih imajinasi juga. Coba kamu pikir rasanya saat kamu lagi seneng ketemu pacarmu. Bayangin suasananya, bayangin perasaan yang timbul. Setelah itu bayangin kira-kira musik 'soundtrack'nya kayak apa. Bisa aja satu nada aja, bisa satu kord, bisa satu lagu penuh, bisa satu lagu penuh beserta aransemen musiknya sekalian. Aku sendiri udah padah tahap saat aku ngarang lagu, aku bisa bayangin ketukan drumnya kayak gimana, bassnya gimana, gitarnya gimana, soundnya gimana, bahkan sampai mixingnya juga sudah ada dalam bayanganku saat itu juga saat aku ngarang. Emang butuh waktu lama sih untuk bisa kayak gitu, tapi kalo kamu rajin mencoba, pasti bisa.


Saturday, August 20, 2011

TAO OF SHRED 6: ORIGINAL FIRE part 3

Bagian Ketiga: To Be Or Not To Be


Kita sudah membahas tentang “keunikan” sepanjang 2 artikel. Dalam artikel yang terakhir, saya cuman pengen bilang: UNIK ITU GAK WAJIB. Paradoks memang. Tapi itulah yang saya rasakan. Dalam berkesenian unik itu bukan kewajiban. Yang wajib adalah pesan yang ingin kamu sampaikan dalam karyamu.

Pasti banyak yang bilang kalo saya ini gila. Mereka akan bilang: musik itu harus orisinil. Musik itu harus begini, musik itu harus begitu. Padahal musik itu cukuplah hanya menjadi musik. Tidak kurang, tidak lebih. Ketika musik itu kamu suka, maka dengarkanlah terus. Ketika kamu gak suka, ya jangan didengerin. Gampang banget. Gak ada hubungannya sama orisinil apa enggak.

Dalam musik klasik, kamu GAK BOLEH UNIK. Kamu harus memainkan lagu-lagu klasik sesuai dengan yang tertulis di partitur. Gak boleh ada interpretasi lain, selain yang diinginkan oleh komponis pencipta lagu itu. Kalo kamu mengganti satu aja nada di dalam lagu itu, maka kamu akan dituduh menghujat. Ini beneran loh.

Dalam sebuah orkestra klasik, kamu gak boleh unik. Ketika kamu main teknik vibrato, maka vibratomu harus sama dengan seluruh anggota orkestra. Itu cuma contoh kecil aja. Tapi liat apa yang terjadi, musik klasik dianggap sebagai musik 'terhormat', dan malah disebut sebagai 'tingkatan musik paling tinggi'. Saya sih gak pernah setuju dengan itu semua. Walaupun saya suka banget sama musik klasik, saya pikir terlalu mengada-ada kalo musik klasik terlalu dipuja-puja.

Kembali lagi ke masalah keunikan.

Ketika kamu membuat musik hanya berdasarkan keunikan, maka karyamu menjadi karya yang egois. Egois dalam berkesenian memang ada dan perlu. Istilahnya art for an art. Seni untuk seni. Tapi saya sendiri juga gak sepaham. Seni seharusnya untuk memuliakan manusia. Memanusiakan manusia. Berkontribusi demi kemanusiaan juga.

Saat seni hanya untuk seni, maka kebanyakan yang muncul adalah karya-karya egoistis yang tidak mudah dipahami, dan eksklusif. Sah-sah saja kalo ada satu dua karya seorang seniman yang seperti ini. Tapi kalo seniman itu membuat semua karyanya seperti ini, maka jadilah ia seniman yang egoistis.

Ada yang tau Pat Matheny.? Dia itu gitaris jazz. Karya-karyanya bagus banget. Tapi suatu saat dia ngeluarin album yang judulnya “Zero Tolerance” yang ehm,,,gila banget. Album itu isinya suara gitar yang ancur. Kayak orang nyetem gitar, tapi sepanjang album. Gak ada musiknya. Hanya suara noise seperti orang nyetem gitar.

Hal seperti ini boleh-boleh saja, asal dilakukan sekali-sekali. Tapi kalo ada seniman yang terus melakukan karya seperti ini, maka orang-orang akan bilang “What are you trying to say?”. “Pesan apa yang ingin kamu sampaikan?”.

Seniman seperti ini akan ditinggalkan audiensnya. Dan kehilangan apresiasi. Padahal hal paling penting yang dibutuhkan seniman adalah apresiasi atas karya-karyanya.

Saya sering menemukan kasus seperti ini di komunitas film indie. Atas dasar idealisme, dan semangat berkesenian yang tinggi, mereka sering banget bikin film yang gak bisa dimengerti. Saya pernah lihat saat pemutaran film indie, ada sebuah film yang hanya menampilkan asap sepanjang filmnya. Bayangin, selama setengah jam, film itu isinya asap semua. Adalagi film yang menggambarkan orang melamun. Lama banget ngelamunnya. Setelah itu di akhir film, dia membuka sebuah nasi bangkus lalu makan.

Saya sebagai penonton, merasa tertipu dan dibodohi. Film nyeni, dan idealis gak harus kayak gitu. Film nyeni gak harus aneh. Dan film aneh belum tentu nyeni.

Wah, saya emang udah ngelantur jauh ke masalah film. Tapi itu emang contoh paling gampang yang bisa dipakai. Saat penontong datang ke tempat pertunjukan, membeli tiket, dan menghabiskan waktunya untuk menonton acara seni, maka penonton dan seniman mempunyai “kontrak tidak tertulis”. Isinya bahwa sang seniman akan menampilkan karya terbaik yang bermanfaat sebagai hiburan, penggugah, penyemangat, inspirasi, dan lain-lain. Sebagai gantinya penonton mengeluarkan uang dan waktunya.

Tapi apa jadinya jika penonton sudah membeli tiket, atau membeli album musik, atau buku, tetapi kemudian karya seni yang ia dapatkan malah membuatnya bingung, dan kesal karena merasa telah tertipu dan dibodohi. Dan itulah yang saya rasakan ketika saya menonton film indie yang berasap, dan orang melamun tadi.

Tidak ada yang saya dapatkan. Tidak ada pembelajaran. Tidak ada inspirasi. Yang ada hanya keegoisan dan idealisme senimannya. Semua itu memang boleh dan sah-sah saja. Tetapi jangan salahkan saya kalo kemudian membenci dan memberi apresiasi yang buruk terhadap karya demikian. Semua sah-saha saja bukan.

Begitu pula dengan musik. Musisi boleh idealis, boleh unik, boleh aneh dan boleh nyeleneh. Asalkan dia paham betul bahwa karyanya harus ia pertanggungjawabkan secara moral dan secara estetis. Kalo ada penyanyi dangdut yang nyanyi buka-bukaan dengan goyang erotis, maka sah-sah aja dia lakukan selama dia suka. Tapi kalo kemudian ada sebagian kelompok masyarakat yang melemparinya, dan memboikot dirinya, itu adalah hak audiens juga.

Memang, karya yang baik, bukanlah karya yang HARUS diterima semua kalangan. Tapi menurut saya, karya yang baik adalah karya yang memberikan sesuatu kepada audiensnya. Karya yang menggugah intelektualitas, menggugah hati, dan menggugah batin. Bukan hanya menggugah isi celana dalam  kita.

Pembahasan keunikan ini sudah terlalu jauh sampai ke ranah-ranah sensitif dalam dunia seni, tapi gak papa lah sekali-kali kita memang harus berpolemik.

Jadilah sesuatu yang unik, namun berkesan dan membekas. Unik bukan hanya demi kepentingan menjadi unik. Tetapi unik karena jujur. Namun yang lebih penting lagi, buatlah sesuatu yang berguna. Jika itu tidak unik, ya tidak apa-apa selama itu berguna bagi diri sendiri dan audiens.

Jangan memaksa menjadi unik dengan mengorbankan estetika, dan pertanggungjawaban karya. Karena sebuah karya, walaupun tidak unik, asalkan jujur dan mampu memberi suapan bagi batin dan jiwa, adalah tujuan utama dalam berkesenian.

Bach, Mozart, dan Beethoven membuat musik abadi. Karya-karya mereka  masih dimainkan dan dinikmati orang jauh ratusan tahun setelah mereka mati. Tapi saat mereka membuat lagu-lagu itu, mereka gak pengen jadi unik. Mereka membuat lagu-lagu itu bukan untuk menjadi unik. Mereka mungkin akan bilang “God gave us talents. We gave people music”. Tuhan memberi bakat kepada kami, dan kami memberikan musik kepada orang-orang. Kejujuran, itulah yang penting dalam berkarya. Sebuah kejujuran akan menghasilkan keunikan tersendiri.

Itulah karya. Ketika lahir dari kejujuran, lahir dari keterusterangan, lahir tanpa pretensi dan tendensi, maka karya itu akan jadi abadi. Karena pendengar bisa mendengar kejujuran dalam karya itu. Mendengar pesan-pesan indah.

Kesimpulannya selama 3 artikel bersambung ini?

Isi adalah kosong, dan kosong adalah isi. Begitu kata bikhsu Tong, yang ke barat mencari kitab suci.

Friday, August 19, 2011

TAO OF SHRED 5: ORIGINAL FIRE part 2

Bagian Kedua: Idiot Box

Jika kamu bertanya kepada semua seniman di dunia ini, mereka pasti akan mengakui bahwa karya mereka selalu terinspirasi oleh seniman lain. Entah karya itu mirip banget sama yang mempengaruhi, atau malah gak mirip sama sekali, itu soal lain. Intinya, setiap seniman, apalagi gitaris selalu terinspirasi oleh orang lain.

Kita sudah pasti sangat terinfluence oleh idola-idola kita. Mau bagaimanapun kita menyembunyikannya, pengaruh itu pasti kelihatan. Saya melihat tidak ada yang salah ini, malah sebenarnya bagus. Karena di dunia ini gak ada yang bener-bener original. Karya yang dianggap original itu pasti mempunyai 3 unsur: terinspirasi oleh sesuatu, atau bisa juga gabungan dari karya-karya yang sudah ada, atau bisa juga 'memodifikasi' karya yang udah ada sebelumnya. Yang membuatnya menjadi original adalah ketika belum ada orang lain yang melakukan 3 unsur itu sebelumnya.

Ambil contoh Jimi Hendrix. Permainannya itu dianggap unik banget oleh para gitaris sejagad. Tapi Jimi sendiri mengaku permainannya itu sangat terpengaruh oleh gitaris-gitaris blues angkatan sebelum dirinya. Jimi hanya menambah beberapa pedal efek, dan memainkan aksi liar.

Yngwie Malmsteen? Keunikan permainannya adalah gabungan dari permainan biola Nicollo Paganini, sedikit Richie Blackmore, dan sedikit Jimi Hendrix. Yngwie kemudian memasukkan sedikit 'kepribadian'nya sendiri, sehingga jadilah karya-karya Yngwie Malmsteen yang selama ini kita dengar.

Steve Vai? Kelihatan banget kalo permainannya itu adalah gabungan dari keindahan dan tekniknya Joe Satriani, digabung dengan keanehan dan keunikan Frank Zappa. Kadang-kadang Steve Vai juga menggabungkan musiknya dengan musik-musik eksotis ala India atau Bulgaria.

Kelihatannya gampang ya? Padahal susah banget. Susahnya adalah menemukan ide untuk mengkombinasikan, dan memodifikasi influence-influence kita. Bagaimana cara biar kita gak meniru idola-idola kita itu mentah-mentah.

Saya memiliki cara sederhana untuk itu: SAYA TIDAK PERNAH MENGULIK DAN MEMAINKAN MUSIK-MUSIK IDOLA SAYA SECARA PERSIS NADA DEMI NADA. Alasannya, pertama karena saya GAK MUNGKIN BISA main persis idola saya. Kedua, karena saya emang GAK MAU persis dengan idola saya.

Alasan kedua ini yang pengen saya bahas.

Saya gak mau main persis, karena saya pikir percuma. Karena saya gak pengen orang memuji saya “Man, mainmu hebat kayak Steve Vai”. Saya pengen orang memuji saya “Man, mainmu hebat”. Itu yang saya inginkan. Jadi ketika saya mengulik, atau membawakan lagu orang lain. Saya hanya akan membawakan 75% mirip aslinya, 25% akan saya improve sendiri. Saya masukkin 'diri saya' sendiri ke dalam yang 25% itu.

Dengan begitu saya malah menemukan ciri khas permainan saya sendiri. Mirip idola saya, tapi juga gak mirip idola saya.

Contoh teknisnya begini. Kalo seumpama dalam sebuah bagian lagu, idola saya memainkannya dengan teknik legato, saya akan memainkannya dengan teknik picking. Kalo idola saya melakukan arpeggio, saya akan melakukannya dengan tapping. Dengan merubah-rubah gaya permainan seperti ini, saya malah menemukan hal-hal baru, yang bisa menambah ilmu saya. Dan juga menambah 'perbendaharaan keunikan' saya.

Richie Kotzen mencontohkannya denga sangat baik ketika dia bergabung di Mr. Big. Saat memainkan lagu “Green Tinted Sixties Mind”, Richie tidak memainkan dengan cara tapping seperti yang dilakukan gitaris sebelumnya, Paul Gilbert. Richie memainkannya dengan cara skipping string dan legato. Hasilnya? Dahsyat. Cari aja videonya di Youtube.

Setiap memainkan lagu orang lain, otak saya selalu berfikir “Ada gak cara main lain untuk lagu ini?”. Dalam benak saya, selalu berusaha untuk nampilin sesuatu yang berbeda. Tujuannya supaya lebih fresh.

“Gimana kalo saya main lagu itu pake teknik killswitch semua?”
“Gimana kalo bagian sweep ini saya ganti tapping aja?”
“Gimana kalo nada ini saya mainin satu oktav lebih tinggi dari aslinya?”

Itu adalah ide-ide dalam benak saya kalau saya bawain lagu orang, dan juga bawain lagu sendiri. Dengan ide-ide kayak gini, kamu akan selalu tampil beda, dan tampil fresh. Permainan gak akan jadi membosankan. Dan yang paling penting, kamu akan nemuin hal baru yang bisa jadi identitasmu sendiri.

Jadi lahirkanlah ide-ide baru. Jangan terkurung dan terkungkung. Think out of the box. That's our lesson today.
  

TAO OF SHRED 4: ORIGINAL FIRE part 1





Bagian Pertama: Be Yourself Is All That You Can Do

Semua orang pasti ingin unik. Kita pengen unik, karena keunikanlah yang membedakan kita dari orang lain. Dengan menjadi unik, orang lain akan dengan mudah mengenal kita. Hal ini mungkin malah sudah menjadi harga mati bagi seniman. Dengan keunikannya, karya-karyanya menjadi lebih dikenal, namanya menjadi terkenal pula.

Sebagai gitaris, saya pikir itulah yang selama ini kita idam-idamkan bukan? Ingat ketika kita langsung mengenal permainan Brian May-nya Queen hanya dengan mendengarkan nada pertama dari permainan gitarnya. Atau kita mengenal Yngwie dari permainan arpeggio dan vibratonya yang khas. Atau Steve Vai yang nadanya 'nyeleneh'.

Kita pengen kayak gitu juga kan?

Seorang teman pernah bilang pada saya “Kalo ada acara musik, tanpa harus menonton pun, dan hanya mendengar dari jauh, aku udah tahu kalo itu permainanmu, Man”. Saya terharu banget dengerin komentar kayak gitu. I mean, berarti saya udah unik dong? Hehe.

Saya termasuk orang yang beruntung telah menemukan keunikan permainan saya sendiri. Di luar sana, banyak banget orang yang masih mencari keunikan diri. Padahal, bagi saya keunikan itu adalah jati diri sendiri. Seharusnya orang gak perlu susah-susah mencari, karena keunikan terletak di dalam dirinya sendiri.

Ingat betapa sidik jari kita aja gak ada yang sama. Pola pikir kita juga gak ada yang sama. Di dunia ini, semua orang unik menurut caranya masing-masing. Itulah sebabnya sebenarnya tidak susah menciptakan keunikan, karena Tuhan sudah menciptakan kita secara unik, dari sononya.

Unik bisa aja aneh, bisa aja nggak. Orang bisa unik tanpa harus menjadi aneh. Dan orang bisa aneh karena keunikannya. Saya mau ambil contoh Buckethead. Orang ini saking uniknya sampai jadi aneh. Atau bisa juga saking anehnya, jadi unik. Kita tahu dia selalu pakai topeng. Ia juga selalu menggunakan bucket nya KFC sebagai topi. Lagu-lagunya pun aneh-aneh. Dan tingkah lakunya juga aneh.

Tapi keanehan itu sebenarnya tidak dibuat-buat. Dari yang saya baca, Buckethead bertingkah seperti itu 24 jam dalam sehari. Tiga ratus enam puluh lima hari dalam setahun. Semua kelakuan anehnya tidak dibuat-buat dan ia hidup memang seperti itu.

Ada cerita unik tentang Buckethead, ketika ia masih bergabung dengan Guns n Roses. Pada saat rekaman pembuatan album, Buckethead minta dibuatin kandang ayam di dalam studio. Ia hidup, makan, tidur, dan rekaman di dalam kandang itu. Suatu saat dia membawa anjing peliharannya untuk tinggal di situ juga. Ketika anjing peliharan itu be'ol di dalam 'kandang' Buckethead, Buckethead meminta agar kotoran anjing itu gak dibersihkan, karena dia suka baunya kotoran anjing. Selama berhari-hari kotoran itu gak dibersihkan, dan Buckethead hidup di dalam situ tanpa rasa risih sampai proses rekaman selesai.

Unik, aneh, dan gila ya?

Tapi keunikan itu lahir benar-benar dari dalam dirinya. Ia memang udah aneh dari sononya. Semua tingkah laku Buckethead tidak dibuat-buat untuk mencari sensasi. Melainkan sudah aslinya. Itulah yang ingin saya sampaikan dalam artikel ini. Jadilah unik, bukan karena ingin dikenal atau karena ingin mencari sensasi. Tetapi unik karena diri kamu unik.

Saat ada acara-acara musik, saya sering lihat player atau band yang mencoba tampil unik. Manggung pake sarung, atau pake topeng, atau melakukan hal-hal “aneh” diatas panggung. Tujuannya supaya bisa dibilang unik.

Hal ini, bagi saya sebenarnya agak kurang pas. Kalau mereka melakukannya karena itu sudah pembawaan, atau karena itu lahir dari jiwanya sih gak masalah. Tapi sayangnya, saya selalu bisa tahu apakah seseorang itu melakukan sesuatu dari hatinya, atau hanya sekedar 'abang-abang lambe' [basa-basi]. Apalagi dalam musik, saya selalu bisa tahu apakah sebuah band main musik karena jujur, ataukah ada agenda tersembunyi di belakangnya [seperti pengen ngetop, pengen juara, pengen dipuji, pengen diterima pasar,  dll].

Akhirnya 'keunikan' yang mereka tampilkan terkesan palsu, dan pre-contrived [dibuat-buat]. Padahal berkesenian haruslah jujur. Tanpa melakukan hal-hal 'unik' pun, orang sudah UNIK kok sebenarnya. Asal dia jujur pada dirinya sendiri, keunikan itu pasti akan bersinar. Ditambah dengan kemauan untuk terus belajar, maka seseorang tak pernah gagal untuk menjadi unik.

Oleh karena itu, jujurlah dalam berkarya. Buatlah karyamu bukan karena untuk dipuji, untuk dianggap hebat, dan lain-lain. Tetapi buatlah karena semata-mata karena kamu ingin berkarya. Jika kalau kemudian karyamu itu laku dijual, bersyukurlah. Jika tidak laku, maka yakinlah bahwa kamu sudah menjadi seseorang yang jujur. Itu saja sudah sangat berharga.

Ingatlah. Yang membuat kamu menjadi unik adalah ketika kamu menjadi dirimu sendiri.

Tuesday, August 16, 2011

TAO OF SHRED 3: Be The Best



Apa definisi 'gitaris yang baik'? Seorang teman bilang, gitaris yang baik adalah gitaris yang gak pernah be'ol di atas meja. Haha. Saya sendiri bingung mau bilang apa. Saya bisa menulis satu buku penuh hanya untuk membahas ini.

Apakah gitaris yang baik itu yang mainnya paling rapi? Apakah gitaris yang baik itu yang mainnya paling persis dengan rekaman [rekaman lagu-lagunya sendiri, atau meng-cover lagu orang lain]? Apakah gitaris yang baik itu yang mainnya paling cepat? Ataukah gitaris yang mainnya soulful banget?

Masih banyak banget kategorinya.

Tapi kalo boleh disimpulkan, saya bisa bilang bahwa gitaris TERBAIK, adalah gitaris yang bermain sesuai konteks musiknya. Ia bisa bermain pelan jika musik membutuhkannya untuk bermain pelan. Ia bisa bermain cepat jika musik membutuhkannya untuk bermain cepat. Ia bisa bermain halus, ia juga bisa bermain kasar jika musik membutuhkannya untuk itu.

Itu aja. Simple banget kan?

Nggak. Itu sebenarnya susah banget. Ada banyak usaha dan kerja keras untuk bisa main seperti itu. Seorang gitaris harus melalui berbagai proses dan 'kejadian' sebelum ia mencapai tahap demikian.

Saya punya pengalaman menarik.

Beberapa bulan yang lalu, saya ke Jakarta untuk menjadi session player di album salah satu artis pendatang baru. Saya disuruh mengisi gitar untuk beberapa lagu. Ketika berangkat saya pede abis. Dalam hati saya bilang, “Halah cuma lagu-lagu kayak gitu aja, dalam sehari aku bisa nyelesain satu album”

Sesampai di Jakarta, dan masuk studio. Semua berbanding terbalik dengan perkiraan saya. Ketika masuk studio dan mengisi gitar, saya baru sampai di bar pertama ketika saya kemudian disuruh berhenti oleh musik produsernya. Ia bilang, “Mainmu jelek. Belum pantes masuk industri rekaman”.

Saya terhenyak. Dalam hati saya bilang “Come on man, saya kan pernah jadi gitaris terbaik se-Indone....”

Dengan wajah sangar si produser menyetel lagi hasil rekaman gitar saya. Setelah saya dengarkan emang JELEK.

Saya gak tahu kenapa. Apakah karena ini pengalaman pertama saya memasuki industri musik ibukota, atau karena perasaan saya saat itu lagi galau karena masalah pribadi. Saya gak tau. Yang saya tau, kalo di Malang saya bisa mengisi lagu-lagu seperti itu dengan baik dalam waktu 5 menit, alias sekali take.

Saya lalu meminta waktu 3 hari kepada produser. Dalam waktu 3 hari itu saya menangkan diri dari segala pikiran. Berlatih lagi memperbaiki permainan gitar saya. Untunglah dalam waktu 3 hari saya berhasil melakukannya. Walaupun kemudian proses rekaman memakan waktu yang panjang, dan juga 'omelan-omelan' produser, saya akhirnya berhasil juga merampungkan tugas saya.

Apa makna yang bisa diambil?

Menjadi gitaris itu tidak lah mudah. Walaupun kamu punya segala teknik dan teori, kamu punya peralatan yang bagus, permainanmu juga dipuji banyak orang, tapi kamu tetap butuh belajar banyak. Dari orang lain dan dari pengalaman sendiri.

Betapa susah memainkan sesuatu yang ceria, sedangkan hati kamu sedang galau. Begitu juga sebaliknya.
Betapa susah menampilkan yang terbaik dari diri kamu, sedangkan banyak faktor, dan banyak hal yang kamu lalui saat itu. Ini sama dengan seorang aktor yang harus berakting gembira padahal hatinya sedang sedih.

But, The show must go on.

Produser, sutradara, artis, industri,atau bahkan dunia sekalipun tidak akan pernah mencoba mengerti keadaan kamu. Mereka inginkan yang terbaik dari kamu, karena mereka membayarmu mahal. Maka tidaklah mudah menjadi yang terbaik. Sebelum kamu mengalami banyak cobaan-cobaan, maka perjalanan kamu masih panjang.

Dalam hidup, perjalanan adalah tujuan. Maka saya gak pernah mencoba menjadi THE BEST GUITARIST. Saya hanya ingin menjadi THE BEST PERSON....