Showing posts with label GUITAR 101. Show all posts
Showing posts with label GUITAR 101. Show all posts

Thursday, December 22, 2016

PERKEMBANGAN TONE GITAR METAL

Tone!

Hampir semua gitaris di dunia ini selalu membahas TONE. Karena bagi gitaris, tone gitar adalah bagaikan tanda tangan mereka. Orang akan langsung mengenal sang gitaris cukup dengan mendengarkan tone gitarnya. Dalam kata lain, tone adalah suara gitar yang dihasilkan dari sang gitaris.

Saya mungkin gak akan terlalu membahas sisi filosofis bahwa tone itu dari tangan si gitaris, bla..bla..bla…, karena membahas sisi filosofis  gak bakalan selesai. Seperti apapun di dunia ini, membahas masalah tone/sound gitar adalah sesuatu yang sangat subyektif. Oleh karena itu pun saya akan membahasnya secara subyektif, yaitu berdasarkan pengamatan saya sendiri.
Nah berdasarkan pengamatan saya, tone gitar itu berubah-ubah sesuai jaman dan trend. Dan karena saya adalah gitaris yang ‘mengaku’ metal, maka saya cuma akan membahas sound gitar metal aja.

Di tahun 80an-90an, sound gitar yang ngetop banget untuk musik metal saat itu adalah yang “Mid Scooped”, alias frequensi middle nya dikecilin. Suara gitar yang dihasilkan terasa gahar. Tetapi biasanya sound gitar yang mid scooped selalu keren didengerin saat gitar itu dibunyikan sendirian. Kalo seluruh band udah main, biasanya gitarnya jadi gak kedengaran. Kenapa? Karena dalam mix, frequensi gitar adalah middle. Kalo dikecilin middle nya, maka ilang deh suara gitar ditelan instrument lain. Gimana ya band-band besar seperti Metalica atau Pantera bisa punya sound yang scoop tapi tetap kedengaran di mix? Entahlah. Itu mungkin sound engineer yang lebih paham dan punya trik sendiri saat mixingnya.

Dimebag Darrel (Pantera)


Tahun 2000an, sound gitar berubah menjadi lebih berat saat Korn dan Limp Bikit mulai mempopulerkan gitar senar 7. Hampir semua band metal saat itu menggunakan gitar senar 7, atau melakukan down tuning di gitar senar 6. Tone gitar kala itu masih terpengaruh Pantera, tapi dibuat lebih berat karena adanya senar 7 yang lebih rendah. Ciri khas gitar metal jaman ini juga soundnya lebih open dan renyah. Seperti tonenya Mark Tremonti yang saat itu mempopulerkan kombinasi gitar PRS dan ampli Mesa Boogie. Jaman ini pula sound natural dari ampli menjadi inti utama sebuah tone gitar, di mana era sebelumnya lebih menitikberatkan pada rack gitar yang berisi pre amp dan power amp.

Wes Borland (Limp Bizkit)


Memasuki era 2010 ke atas, trend sound pun mulai berubah. Jika di era sebelumnya sound analog sudah menjadi rumus dasar sound keren, maka memasuki era ini justru sound digital kembali merajai. Era efek dan perlatan digital memang sebenarnya sudah lahir di tahun 2000an, tapi saat itu teknologi digital masih belum secanggih sekarang. Sehingga sound yang dihasilkan masih belum bisa mendekati sound analog. Di era 2000an, efek digital hanya bisa menjadi pelengkap karena ringkas dan mempermudah para gitaris.

Nah, era 2010 adalah era dimana teknologi digital sudah sangat maju. Studio rumahan (home studio) menjamur karena sekarang orang dapat membuat hasil rekaman yang sangat bagus karena teknologi digital yang mempermudah dan mempermurah. Adanya program-program serta aplikasi rekaman yang soundnya dahsyat membuat para musisi tidak perlu lagi membeli ampli atau efek analog yang mahal. Cukup klik saja, voila, sound keren pun tiba!

Era ini menyajikan sound gitar professional yang didapatkan dari program computer yang bisa didownload dengan mudah. Bahkan rekaman-rekaman band terkenal saat ini, sound gitarnya ada juga yang menggunakan program seperti ini. Ditambah lagi efek digital seperti Fractal Ax Fx, Line 6 POD HD, yang soundnya, konon, menggelegar dengan natural, membuat era digital benar-benar berjaya. Banyak gitaris yang cuma membawa Fractal atau POD saja ke atas panggung. Tanpa repot membawa ampli, cabinet, atau rack segede kulkas.



Kamu masuk tipe gitaris yang mana nih? Analog atau digital? Semua mempunya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Asal kamu bisa memanfaatkannya maka sound gitar kamu bakal tetep keren kok.

Oke, kini sekedar membahas pilihan pribadi saya.

Untuk manggung di acara gede, saya suka bawa ampli, pedalboard berisi stomp box, dan beberapa gitar. Ribet memang. Tetapi entah kenapa, selalu kerasa lega jika manggung menggunakan peralatan tempur yang lengkap kayak gini. Cuma ya itu ribet. Harus ada kru.

Kalo kru lagi gak ikut, atau cuma karena main di acara kecil, saya cukup bawa Zoom G5 aja. Untuk distorsian, menurut saya udah cukup banget lah. Cuma sound-sound modulasinya aja yang kurang gimanaaa gitu. Enaknya efek digital jaman sekarang, kita bisa download sound macam-macam. Bahkan sound-sound ini adalah hasil settingan gitaris papan atas macam Richie Kotzen dan Steve Vai.


Di artikel berikutnya, saya akan membahas sedikit tips tentang sound gitar saat rekaman. Stay tune!

Saturday, January 26, 2013

ALL ABOUT ELLE




Saya kayaknya sejak awal memang udah tertarik ama Telecaster. Gitar pertama yang saya beli pake duit sendiri adalah gitar custom Telecaster. Gitar ini sempat menjadi ciri khas saya, terutama setelah saya menulis “INTIFADA NOW” di body nya.

Gitar ini sempat menjadi gitar utama saya bersama C4. Dan juga sempat dipakai rekaman album pertama C4.

Suatu hari, saya memiliki seorang murid yang masih kelas 3 SD namun bakatnya terlihat sangat besar. Saya memberikan gitar kesayangan saya itu kepadanya. Entah kenapa, saya kemudian tidak mendengar lagi kabar darinya. Dan saya pun tidak mendengar lagi kabar tentang gitar saya itu.
Kemudian saya sempat bereksplorasi dengan gitar ala superstrat. You know, gitar dengan humbucker yang hot output, 24 fret, dan Floyd rose. Tapi lama-lama saya kemudian bosan, dan ingin kembali lagi ke telecaster.

Saya gak tau juga apa alasannya kok saya pengen lagi pake Telecaster. Yang saya tau, saya cuma ngerasa gitar ini memang cocok untuk saya. Lebih straightforward, gak pake banyak embel-embel, gak ngerepotin, dan satu lagi, indah dipandang.

Mungkin saya harus nyeritain sejarah singkat kenapa saya suka banget ama telecaster. Semuanya memang dimulai dengan kekaguman saya kepada gitarisnya Radiohead, Jonny Greenwood. Caranya bermain, ide-idenya, soundnya, dan penampilannya membuat saya jatuh hati kepada telecaster. Apalagi kemudian saya melihat John 5 yang saat itu bergabung ama bandnya Marilyn Manson. Dia bisa bikin telecaster terlihat gothic. Soundnya bisa twangy namun bisa metal juga. Puncaknya ketika saya melihat Richie Kotzen menggunakan telecaster untuk bermain ala shred. 

Wow! I think that’s what I wanna do. Combine those players!

Akhirnya, saat punya kesempatan untuk membeli telecaster, saya mencurahkan semua ide dan pengalaman saya bermain gitar untuk ‘membangun’ sebuah telecaster idaman. Saya lalu membeli sebuah telecaster dari toko. Sebuah tele hitam berpickguard chrome yang membuat tampilannya anggun namun sedikit gothic. Hampir mirip dengan yang dipakai oleh John 5.

Untuk sound, dalam angan-angan saya, gitar ini harus memiliki sound yang komplit. Harus bisa dipakai untuk main musik apa aja mulai dari pop, country, jazz, blues, bahkan metal. Oleh karena itu otak saya bekerja merancang dan memikirkan pick up dan konfigurasi apa yang harus saya pakai.

Untuk pick up bagian neck, saya memutuskan untuk menggunakan Seympur Duncan Hot For Tele. Ini untuk mempertahankan karakter single coilnya yang bright dan twangy, tapi juga memeliki output yang besar. Saya juga ingin sound neck pick up yang warm dan tebal ala humbucker. Oleh karena itu saya membeli sebuah Seymour Duncan Hot Rail untuk dipasang di bagian neck bersebelahan dengan neck pick up aslinya. Pick up ini walaupun ukurannya seperti single coil, sebenarnya adalah sebuah humbucker. Tapi bisa juga displit menjadi single coil sehingga bisa menghasilkan sound ala strat. Eksperimen ini terbukti berhasil saat sound yang dihasilkan ternyata tepat sesuai angan-angan saya.

SH-STR 2 Hot For Tele

SH-Hot Rails


Untuk bridge pick up, mau gak mau saya harus mengganti pick up aslinya yang berupa single coil menjadi sebuah humbucker. Karena untuk menghasilkan sound metal, saya harus menggunakan humbucker. Kalo gak, soundnya akan menjadi terlalu tipis untuk musik metal.

Pilihan saya jatuh pada Seymour Duncan Sh-14. Karakter pick up ini berada di tengah-tengah. Tidak terlalu metal dan juga tidak terlalu mellow. Frequensi Mid nya cocok juga untuk dipakai untuk main lead.

SH-14 Custom 5


Untuk konfigurasi wiring, ELLE memiliki keunikan tersendiri. Ada sekitar 20 sound yang bisa dihasilkan oleh gitar ini. Ada fitur coil split, out of phase, dan juga killswitch (untuk menghasilkan teknik ala DJ). Dengan switch out of phase, saya bisa menghasilkan ground noise jika menyentuh neck pick up. Ini berguna untuk explorasi sound aneh-aneh yang biasa saya lakukan. Sedangkan switch untuk coil split berguna untuk menghasilkan karakter single coil di humbucker saya.

Karena menggunakan humbucker di bagian bridge, saya harus sedikit memodifikasi bridge tele agar humbuckernya bisa dipasang. Radius fretboard juga agak dirubah sedikit biar action nya bisa tetap low, tanpa mengurangi sustain.

Secara keseluruhan, gitar ini bisa mengakomodir semua kebutuhan sound saya. Bisa dipakai untuk main britpop, jazz, country, rock, metal, dan shred.

Saya jatuh cinta banget ama ELLE sampai-sampai gitar ini saya bawa tidur, jalan-jalan, bahkan juga nongkrong!!







Tuesday, August 9, 2011

GUITAR 101 part 3: Building Guitar----Spare Parts: Bridge


Kalo gitar diumpakan senjata, maka spare part adalah amunisinya. Gak perduli gitarmu beli di toko, atau custom di luthier, spare part adalah hal penting yang harus kamu perhitungkan juga. Karena spare part ini berpengaruh besar dalam hal sound gitar kamu secara keseluruhan.

Secara garis besar, spare part bisa terbagi dalam: Bridge, Pick up, fret, machine head/tuning post, dan potensiometer. Kita bahas Bridge dulu ya. Pembahasan tentang pickups saya bikin dalam artikel tersendiri supaya lebih seru.

Ini termasuk faktor penting dalam sebuah gitar. Bridge adalah tempat dimana senar gitar dipasang dibagian body. Pada bridge ada bagian bernama saddle, atau sadel. Saddle ini lah tempat terpenting dari sebuah bridge. Ia adalah tempat dimana senar bersentuhan langsung dengan bridge. Dari saddle ini getaran dari senar menyebar ke seluruh bridge.

Bahan dari bridge sangatlah berpengaruh. Ambil contoh kalo bridgemu terbuat dari kayu, pasti sound yang dihasilkan akan berbeda dengan bridge yang terbuat dari besi. Masing-masing bahan memiliki karakteristiknya sendiri-sendiri. Umumnya bridge yang ada di pasaran adalah die-cast bridge. Die-cast ini dibuat dengan cara memasukkan metal cair ke cetakan yang berbentuk bridge. Sedangkan yang bukan Die-cast menggunakan logam utuh, buakn cair, yang kemudian dibentuk menjadi bridge.

Bahan yang bukan die-cast antara lain adalah Brass [kuningan], dan Steel [baja]. Bahan bridge dari brass akan menghasilkan sustain yang asik, tapi lebih berat daripada steel. Sedangkan bahan steel memberikan kekuatan, daya tahan, dan juga tone yang jelas.

Itu baru bahan aja. Sedangkan model dan tipe bridge itu macam-macam. Ada yang model strat, tele, Gibson Tune-O-Matic, Bigsby, dan Floyd Rose. Masing-masing pengaruh juga ke sound. Tapi ya emang gak terlalu pengaruh banget sih. Tapi ada beberapa ahli gitar yang bilang mereka bisa dengerin bedanya.

Contoh aja, misalnya kamu pengen gitar dengan body telecaster, tapi kamu pengen bridgenya model Gibson. Ya asik-asik aja tuh. Atau kamu pengen pasang bridge model Bigsby, yah tambah keren sebenarnya. Cuma, katanya kalo kamu ganti bridge, sound gitar telecaster mu akan kehilangan sound khas tele-nya. Tapi jika kamu gak terlalu mencari sound tele, dan lebih perduli pada penampilan, maka itu semua ya asik-asik aja. Malah kamu bisa menemukan sound unik yang bisa jadi ciri khasmu sendiri.

Yang paling ekstrim adalah jika kamu memakai bridge model Floyd Rose. Model ini dikenal dengan nama floating bridge atau juga tremolo up-down. Menggunakan bridge model beginian pasti akan merubah sound gitar kamu, karena ada bagian body yang harus dibuang supaya bridge ini bisa dipasang. Tapi hasilnya, banyak teknik-teknik menggila yang bisa kamu lakukan. Coba deh dengerin semua album Eddie Van Halen atau Stevie Vai. Banyak bangat teknik asik yang bisa dimainin dengan bridge ala Floyd Rose.

Ingat juga, kalo kamu mau pasang Floyd Rose kamu juga harus memasang Locking Nut nya juga, karena kalo gak gitu gitar kamu akan fales gak karuan-karuan. Perhatikan baik-baik apakah nut gitar kamu yang sekarang bisa diganti ama yang tipe Locking Nut.

Perhatikan juga radius neck gitar kamu. Ukuran standar agar bisa pasang Floyd Rose adalah 12''. Kalo gak sesuai akan terjadi fret-buzz [suara ngepret di fret] dimana-mana. Nah sebelum kamu pasang Floyd Rose perhatikan banget ya unsur ini, karena bisa bahaya buat kenyamanan bermain kamu sendiri.

So, pikir-pikir dulu yaaaa!

GUITAR 101 part 2: Building Guitar----Wood


Di artikel pertama, kita sudah membahas faktor-faktor yang harus kamu pertimbangkan untuk membeli gitar. Tapi kalo kamu bosen dengan gitar-gitar yang ada di toko, dan pengen bikin gitar kamu sendiri, maka ada beberapa faktor juga yang harus kamu perhatiin. Faktor-faktor itu hampir sama dengan saat kamu membeli gitar yang udah ada di toko. Tapi kali ini kamu harus lebih teliti, dan lebih detail. Faktor-faktor itu meliputi bentuk dan bahan untuk body, dan neck. Selain itu juga spare partnya yang meliputi bridge, pickups, dan lain-lain.

Untuk bentuk body sebenarnya bebas-bebas saja. Kamu bisa pilih model apa saja sesuai keinginan kamu. Tentu saja sebelumnya kamu harus menemukan Luthier [pengrajin gitar] yang handal dan berpengalaman. Luthier yang sakti, biasanya bisa bikin gitar model apapun. Kalo sudah ketemu luthier macam begini, maka keinginan kamu untuk bikin body model apa saja sudah kesampaian.

Sekarang yang kamu harus pikirkan adalah, apakah body yang kamu sukai itu cocok dengan musik yang kamu mainkan?. Gak cocok pun sebenarnya sah-sah saja. Itu hak kamu kok. Cuma rasanya berat untuk dibayangkan ada orang main Jazz pake gitar lancip-lancip model Jackson. Atau orang main metal pake gitar hollow body ala Gibson ES 335. Mengenai bentuk body ini udah aku ulas di artikel pertama.

Sekarang, artikel kali ini hanya akan membahas bahan kayu dulu. Pembahasan mengenai spare part akan kita bahas di artikel berikut.

Ada banyak banget kayu yang bisa dijadiin gitar. Tapi gak semua kayu bisa jadi gitar, dan menghasilkan soud gitar yang enak. Ada beberapa faktor yang harus diperhitungkan dalam memilih jenis kayu, yaitu:

  1. Tampilan
    Setiap potongan lembaran kayu itu berbeda dan unik. Bahkan dalam satu spesies yang sama, setiap potongannya akan berbeda satu sama lain. Pola garis kayu, warna, berat, dan kerapatannya semua berbeda secara alami. Ini tidak berarti satu potongan kayu lebih baik daripada potingan kayu yang lain. Mereka hanya berbeda dan unik. Pilihlah tampilan yang paling cocok dengan selera kamu. Kadang-kadang ada kayu yang tampilannya bagus, tapi soundnya jelek. Untuk menyiasatinya, kita bisa menggunakan 'laminate top'. Laminate top adalah sebuah lapisan tipis yang ditempelkan diatas body utama gitar. Cara ini gak akan terlalu merubah sound gitar jika kayu top nya tipis. Biasanya juga disebut veneer.
  2. Berat
    Karakter sound kayu berbeda banget antara jenis/spesies, berat, dan kerapatan struktur kayunya. Secara umum, kayu yang berat akan mempunyai sustain yang bagus dan memiliki artikulasi sound yang bright, yang cocok dipakai untuk Bass. Kayu yang ringan, mungkin bagus buat 'punggung', tapi menghasilkan sound yang kurang jelas artikulasinya dan agak muddy, terutama jika menggunakan humbucker. Nah, kayu yang beratnya menengah lah yang secara umum dipakai untuk gitar. Untuk kayu yang berat, kita mungkin bisa berkompromi dengan membuat lubang di dalam body. Atau yang dikenal dengan istilah Chambered, dan juga hollow [perbedaannya akan dibahas di artikel yang lain]
  3. Harga
    Biasanya sih, semakin bagus sebuah kayu harganya semakin mahal. Begitulah dunia, kawan-kawan,,,.

Nah setelah kamu tahu faktor-faktor apa saja yang harus kamu perhatiin, berikut ini adalah jenis-jenis kayu yang umum dipakai untuk membuat body dan neck gitar:


Alder [Alnus Rubra]
Alder sangat sering dipakai untuk body karena ringan, dan suaranya yang 'penuh'. Karakter 'grain kayunya membuat kayu ini gampang untuk diwarnai. Warna asli Alder adalah light tan [coklat muda] dengan sedikit garis kayu [kadang juga gak ada garisnya sama sekali]. Alder ini cocok banget kalo pake finishing sunburst atau warna-warna yang solid. Karena karakteristiknya yang oke, serta harganya yang murah, Alder adalah kayu yang paling populer untuk gitar. Kayu ini sudah menjadi 'kayu utama' dari pabrikan Fender selama bertahun-tahun. Karakter soundnya bahkan sudah melegenda.



Ash [Fraxinus Americana]:
Ada dua type umum untuk kayu Ash: Northern Hard Ash/Ash utara, dan Southern Soft Ash/Ash selatan. Sesuai namanya, Ash utara itu karakter kayunya lebih keras. Sedangkan Ash selatan yang juga dikenal dengan nama Swamp Ash, lebih soft.

Ash utara ini sangat keras, berat, dan padat. Kepadatan kayu ini menghasilkan tone yang bright dan sustain yang panjang, sehingga kayu ini lumayan populer juga. Warna asli kayu ini agak Cream. Tapi kadang-kadang ada sedikit garis kayu berwarna pink dan coklat. Walaupun struktur kayunya padat, kayu ini memiliki 'pori-pori' grain yang lumayan terbuka sehingga memerlukan banyak cat untuk menutupinya.

Ash selatan, atau Swamp Ash, adalah kayu yang sangat populer juga untuk gitar. Kayu ini sangat ringan, sehingga mudah dibedakan dengan Ash utara. Banyak dari Fender stratocaster buatan tahun 50an menggunakan kayu ini. Warnanya yang Creamy serta pori-porinya, membuat kayu ini paling cocok menggunakan finishing yang Clear. Kayu Swamp Ash ini adalah kayu paling populer setelah Alder, karena karakter soundnya yang seimbang antara Bright dan Warm.

Kebetulan saya memilih kayu Swamp Ash untuk gitar terbaru saya. Alasannya? Keren aja. Hehe


Basswood [Tilia Americana]
Basswood adalah kayu yang ringan. Warna aslinya agak putih, tapi kadang sedikit hijau. Ini kayu yang pori-pori grainnya lumayan tertutup, tapi membutuhkan banyak cat untuk finishing. Kayu ini gak cocok untuk finish yang clear, karena tidak banyak memiliki figur/garis kayu. Basswood lumayan soft, dan agak ringkih. Secara sound, Basswood memiliki tone yang nge-growl, dan warm. Serta memiliki frekuensi Mid yang bagus. Makanya kayu ini cocok banget buat para shredder tahun 80an. Nah, jadi kalo kamu pake kayu ini, kamu termasuk kategori shredder 80'an [just kidding].


Bubinga [Guibourtia Demeusei]
Kayu ini sangat tebal dan kuat. Biasanya dipakai untuk neck bass, dan juga untuk laminations [tops, dan veneer]. Pabrikan Rickenbacker menggunakan kayu ini untuk fretboard, dan pabrikan Warwick menggunakannya untu body. Untuk neck bass, kayu ini menghasilkan sound Mid yang bright dan Low yang tebal. Body gitar yang terbuat dari kayu ini akan terasa sangat berat, tapi bisa menghasilkan sustain selama berbulan-bulan,,,,


Maple [Acer-saccharum dan Acer Macrophyllum]
Maple sangat populer untuk neck dan fretboard. Mudah dikenal dari karakter tone-nya yang bright, pola garis kayunya, serta bobotnya yang tidak terlalu berat. Selain itu kayu ini juga memiliki sustain yang bagus, dan memiliki sound yang 'bite'. Untuk tipe Acer saccharum, sama padatnya dengan Ash utara, tapi lebih gampang untuk difinishing. Sedangkan yang type Acer Macrophyllum lebih soft. Ada beberapa macam jenis Maple, yaitu Flamed maple, Quilted maple, Birds-eye maple, Spalted maple, dan Burl maple. Kayu ini juga tahan banting, kalo-kalo ada yang mau iseng banting gitar,,


Mahogany [Khaya Ivorensis]
Bobot dan ketebalan Mahogany hampir sama dengan maple, tapi kayu ini punya tone yang lebih mellow, soft, dan warm. Sustainnya juga bagus, tapi gak begitu cocok untuk clear finishing. Gitar Gibson Les Paul kebanyakan dibuat dengan menggunakan kayu ini, terutama yang jenis Honduran mahogany.


Poplar [Liriodendron Tulipiferta]
Ini adalah salah satu kayu standar yang juga sering digunakan oleh banyak pabrikan gitar selama bertahun-tahun. Karena warnanya yang agak kelabu/kehijauan, kayu ini hampir selalu menggunakan finishing warna solid. Bobotnya sedikit lebih berat daripada Alder. Secara sound, tone nya pun hampir sama dengan Alder.


Rosewood [Dalbergia...]
Rosewood adalah salah satu kayu dengan bobot terberat untuk gitar. Sound dari kayu ini sangat warm, namun high nya agak 'mendem'. Kayu ini juga agak susah untuk difinishing. Oleh sebab itu sering kali kayu ini digunakan hanya untuk fretboard. Namun ada beberapa orang juga yang menggunakan kayu ini untuk body dan top/veneer. Ada berbagai macam jenis Rosewood, yang paling terkenal adalah Indian Rosewood [Dalbergia Latifolia] yang dipopulerkan George Harrison dengan Telecasternya.


Nah itu sebagian besar kayu yang umum dipakai untuk membuat body gitar dan juga neck. Masih banyak kayu yang lain yang bisa dipake, tapi hasilnya masih belum bisa dipertanggungjawabkan. Jadi lebih baik memilih yang aman-aman saja. Kecuali kalo kamu punya banyak uang yang bisa kamu pake untuk experimen berbagai macam tipe kayu.

Di artikel berikut, kita akan membahas tentang spare part.

GUITAR 101 part 1: Choosing Guitar/ Memilih Gitar

Saya pengen membahas Gear atau peralatan yang harus dimiliki para gitaris. Bahasan ini akan mencakup segala hal mulai dari gitar, efek, dan ampli. Dan juga membahas latar belakang penggunaan alat-alat itu. Di artikel pertama ini, saya akan membahas senjata utama, yaitu GITAR.

Semua gitaris harus punya ini. Mungkin saja ada gitaris di luar sana yang gak punya gitar. Dia manggung atau latihan dengan menggunakan gitar pinjaman. Ini sangat nggak disarankan. Sebabnya banyak. Pertama, kamu gak bakalan selalu bisa main gitar. Karena gitar itu harus dikembalikan, atau yang punya gak mau minjemin lagi. Kedua, kalo terjadi apa-apa dengan gitar pinjaman itu, kamu malah bisa putus hubungan sahabat sama yang minjemin. Ketiga, kamu harus bisa memahami karakter gitar kamu sendiri. Dan itu gak bakalan bisa kamu lakukan kalo gitar kamu adalah gitar pinjaman.

Gitar yang bagus gak selalu harus mahal. Banyak pabrikan gitar mahal seperti Fender atau Ibanez yang mengeluarkan seri gitar harga terjangkau. Untuk pemula, saya menyarankan gitar merk Squier, LTD atau Ibanez Gio. Gitar buatan dalam negeri seperti Rockness, atau Artrock juga kualitasnya udah bagus banget.

Kalo kamu beli gitar, cari yang sesuai keinginan kamu. Kalo kamu pengen jadi gitaris blues/rock, kamu bisa beli gitar model Stratocaster {buatan Fender} atau Les Paul {buatan Gibson}. Jangan beli aslinya karena harganya lumayan mahal. Beli aja yang copy atau replica nya aja. Banyak merek gitar yang memproduksi replica dari strato dan les paul ini. Antara lain buatan Artrock, atau LTD. Stratocaster buatan Squier adalah pilihan saya untuk model strato yang harganya terjangkau.

Untuk musik Jazz, kamu bisa menggunakan gitar yang hollow body. Maksudnya hollow body adalah gitar listrik yang konstruksinya hampir mirip gitar akustik. Yaitu mempunya lubang dan rongga di bagian body nya. Suara yang dihasilkan akan fat dan warm. Cocok banget emang buat musik Jazz. Ada beberapa gitar model hollow ini yang harganya lumayan terjangkau, seperti buatan Ibanez atau Washburn.

Jika musik Alternative dan British ala Radiohead atau Coldplay adalah aliran yang ingin kamu mainin, maka pilihan terbaik jatuh pada model Telecaster. Gitar model telecaster ini aslinya adalah buatan Fender. Dan cocok untuk mainin musik country karena soundnya yang khas. Untuk replica telecaster yang bagus, saya nyaranin yang merek Rockness.

Kalo kamu pengen jadi shredder, beli lah gitar model Superstrat. Model Superstrat adalah upgrade dari stratocaster, makanya di sebut 'Super Stratocaster'. Misalnya bridge sudah menggunakan sistem Floyd Rose {sistem Up-Down}, lalu pick upnya juga sudah diganti yang outputnya lebih hot. Kadang juga malah memiliki fret. Untuk urusan superstrat Ibanez, dan Jackson adalah jagonya.

Sedangkan jika mereka yang suka metal, menurut saya gitar model apa aja bisa kok. Banyak band metal yang modelnya suka 'gak cocok' tapi soundnya dahsyat. Seperti Jim Root nya Slipknot yang pake telecaster, atau Andreas Kisser nya Sepultura yang pake Stratocaster. Yang penting, jika kamu suka main drop tunning, maka perhatikan jangan sampai menggunakan tremolo up down seperti Floyd Rose. Bukannya gak boleh, tapi settingannya akan susah banget. Apalagi kalo kamu menggunakan senar ukuran gede.

Nah, itu pembahasan penggunaan gitar secara umum saja. Ini bukan aturan mengikat, jadi kamu boleh saja menggunakn gitar model apa saja, sesuai keinginan kamu. Tapi yang perlu diingat, setiap musik mempunyai ciri khas soundnya sendiri-sendiri. Lucu aja kalo kamu main musik metal, tapi dengan menggunakan settingan sound musik Jazz. Gak salah sih, cuma riskan. Hehe.

Ok See you.